Aku Merindukanmu Ayah
@mega_marbun, hipwee
Tulisan ini tentang sosokmu yang kurindukan ayah. Butuh kekuatan untukku menahan air mataku yang jatuh setiap kali aku mengenangmu Yah. Aku hanya ingin mengungkapkan kerinduanku, apa kabar dirimu saat ini ayah? Apa yang kini kau lakukan di setiap harinya tanpa kami? tanpa aku dan ibu. Ayah air mataku saat ini sudah menetes di pipiku saat menguraikan setiap kata tentang sosokmu yang kurindukan.
Aku begitu ingin tahu apakah kau menyayangiku dan menganggapku bagian dari hidupmu yah? Yang aku ingat darimu kenapa hanya wajah yang sudah mulai menua, begitu menakutkannya saat kau memarahiku. Dan hanya kudengar nada tinggi suaramu saat itu. tanpa kau tahu Yah disetiap kalinya kau selesai memarahiku, aku berlari kecil ke sudut kamar dengan dada teramat sakit karena menahan sesak, sakit di kerongkonganku seperti menahan sesuatu di bagian itu dan sakit dikepalaku karena terisak menahan tangisku Yah.
Saat itu hari kelulusanku dari Perguruan Tinggi, lihatlah ayah,
anakmu yang nakal ini sudah besar sekarang. Sudah tidak akan memakai
seragam sekolah itu lagi. Ingin aku berlari memelukmu layaknya seperti anak-anak yang lain, tapi... itu hanya imajinasi ku saja ayah, karena engkau datang sebagai bayangan saja, mungkinkah banyangan itu aku peluk? jawablah ayah.
Mengapa saat itu kau sama sekali tak memelukku? Kau hanya menatapku dari kejauhan dengan tatapan kosong lalu pergi berlalu dari hadapanku. Atau nilai hasil kelulusanku biasa saja dimatamu? Sakit yahh..hatiku sakit sekali saat itu. Melihat teman-teman ku dihadiri kedua orangtua mereka, memeluk dan membanggakan hasil nilai kelulusan anak-anak mereka. Tapi aku hanyalah sebagai penenonton mereka disaat hari bahagia ku menjadi hari sedih ku juga ayah, tanpa kau disisiku hatiku hancur.
Waktupun memisahkan ayah dengan ibu, perpisahan kalian juga memisahkan ayah denganku. Saat itu entah apa yang aku rasakan, yang aku tahu saat itu tidak lagi aku dengar kabarmu, tidak lagi aku melihat wajahmu yang penuh amarah padaku jika kau lelah yah. Tak kudengar lagi nada tinggi suaramu saat memarahiku, dan tidak lagi aku berada di sudut kamar dengan terisak tangis.
Mungkin Tuhan memberimu pelajaran berhaga saat itu ayah, untuk kau sadari betapa kau menyia-nyiakan orang yang sangat amat mencintaimu.
Kau pergi menyisakan kenangan wajah amarahmu yang tertanam di otakku, menyisahkan suara kerasmu saat memarahiku. Aku hanya bermimpi disetiap malamnya dapat merasakan pelukan kasihmu yah.
Tapi hari ini aku begitu amat merindukanmu, mungkin mendoakanmu adalah salah satu caraku memelukmu dari sini. Berimajinasi dengan bayangmu adalah caraku mengobati rindu tebal ini yah. Ayah.. tapi aku yakin dihatimu juga ada kasih untukku, mungkin dulu tertutup oleh kerasnya hatimu. Kini aku hanya ingin tahu "kapan kau akan menemuiku dan memelukku sambil tersenyum terhias di wajahmu jika menatapku? Tidak lagi dengan wajah marahmu saja". Ayah janjiku, tak akan ada lagi kebencian untukmu. Sungguh!
I Love You, Dad 💗
Comments
Post a Comment